Beranda > @GNS3 Lab, ccna > GNS3 Lab ICND2: Konfigurasi OSPF

GNS3 Lab ICND2: Konfigurasi OSPF

icnd2_topology3_concept1

Istilah

Autonomous System, adalah sekumpulan router yang berada pada satu kekuasaan administratif yang sama.

Area, adalah sekumpulan router yang memiliki informasi-informasi routing yang sama. Area digunakan agar informasi routing yang dimiliki router-router lebih terfokus pada satu tempat (area) yang spesifik.

Internal Router, Router-router didalam area disebut Internal Router. Internal Router dalam satu area tidak berhubungan langsung dengan Internal Router pada area lain.

Area Border Router (ABR), adalah router yang terhubung pada lebih dari 1 area, router inilah yang mencegah update pada 1 area tidak ter-advertise ke area lainnya (kecuali jika diperlukan).

Autonomous System Boundary Router (ASBR),  adalah router yang menghubungkan satu autonomous system dengan autonomous system lain.

Aturan-Aturan

  • Semua area harus terhubung pada Area 0
  • Semua router dalam satu area memiliki topologi network yang sama
  • Hanya ABR dan ASBR yang dapat melakukan summarization. ABR melakukan summarization antar area dan ASBR antar Autonomous System. Dengan route summarization ini dapat meringkas entri routing yang akan diadvertise ke area lain, dengan begitu dapat lebih meminimalisasi daftar pada tabel routing.
  • Tujuan : desain ospf dengan mengimplementasikan konsep area dibuat agar update yang terjadi pada satu area hanya diadvertise dalam area tersebut saja.
  • Membutuhkan desain network yang hirarkis.

Neighbor Relationship OSPF

Tidak seperti RIP atau protokol router distance vector lainnya yang mengirimkan update secara broadcast dan bisa langsung mulai bertukar informasi routing, OSPF sebelum melakukan pertukaran informasi routing harus menjalin neighbor relationship terlebih dahulu.

Neighbor relationship ini dilakukan dengan mengirimkan pesan Hello melalui interface yang telah dipilih. Pesan Hello ini dikirimkan pada network broadcast setiap 10 detik, sedangkan pada network Non-Broadcast Multi Access (NBMA) akan dikirimkan setiap 30 detik.

Pesan Hello ini berisi hal-hal sebagai berikut:

  • Router ID
  • Hello Timer dan Dead Timer (harus sama)
  • Network Mask (harus sama)
  • Area ID (harus sama)
  • Informasi Neighbors
  • IP address DR/BDR
  • Password Autentikasi jika diperlukan (harus sama)

Jika parameter-parameter yang harus sama diatas ternyata tidak cocok satu sama lain, maka neighbor relationship tidak akan terjalin dan router tidak akan bertukar informasi routing.

Konfigurasi OSPF

Masih menggunakan lab yang sama dengan yang digunakan pada RIP sebelumnya, kali ini kita akan menambahkan Area 1 untuk mempraktekkan OSPF multiarea dengan cara menambahkan interface loopback pada R3, topologi jadi seperti berikut

ospf2

sebelum mengkonfigurasi OSPF kita harus mematikan RIP terlebih dulu pada semua Router dengan perintah no router rip

R1#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
R1(config)#no router rip
R1(config)#^Z
R1#
R2#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
R2(config)#no router rip
R2(config)#^Z
R2#
R3#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
R3(config)#no router rip
R3(config)#^Z
R3#

Sekarang kita konfigurasi OSPF pada setiap router,  pada R1 kita hanya akan mengadvertise OSPF pada interface e0/0 dan tidak pada e0/1 karena kita tidak boleh mengadvertise private ip address ke internet.

R1#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
R1(config)#router ospf 1
R1(config-router)#network 192.168.1.0 0.0.0.255 area 0
R1(config-router)#^Z
R1#

Dimana 0.0.0.255 adalah OSPF wild card bits, kita dapat menghitung wild card bit dengan cara mengurangkan octet per octet 255.255.255.255 dengan subnet mask, misal pada contoh diatas subnet mask nya adalah 255.255.255.0 maka wild card bits nya adalah 255.255.255.255 – 255.255.255.0 = 0.0.0.255.

R2#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
R2(config)#router ospf 1
R2(config-router)#network 192.168.0.0 0.0.255.255 area 0
R2(config-router)#
R2(config-router)#^Z
R2#

Untuk melihat detail proses OSPF yang baru saja kita jalankan dapat kita lihat dengan perintah show ip protocol

R2#sh ip protocols
Routing Protocol is “ospf 1”
Outgoing update filter list for all interfaces is not set
Incoming update filter list for all interfaces is not set
Router ID 192.168.20.1
Number of areas in this router is 1. 1 normal 0 stub 0 nssa
Maximum path: 4
Routing for Networks:
192.168.0.0 0.0.255.255 area 0
Routing Information Sources:
Gateway         Distance      Last Update
192.168.1.1          110      00:02:20
192.168.20.1         110      00:02:20
Distance: (default is 110)

Karena R1 dan R2 telah menjalankan proses OSPF, seharusnya keduanya telah menjalin neighbor relationship

R1#sh ip ospf neighbor
Neighbor ID     Pri   State           Dead Time   Address         Interface
192.168.20.1      1   FULL/DR         00:00:34    192.168.1.2     Ethernet0/0

Kita lihat tabel routing pada R1, entri-entri yang diawali dengan huruf O adalah entri yang didapatkan dari proses OSPF

R1#sh ip route
Gateway of last resort is 168.205.34.97 to network 0.0.0.0
168.205.0.0/27 is subnetted, 1 subnets
C       168.205.34.96 is directly connected, Ethernet0/1
O    192.168.10.0/24 [110/11] via 192.168.1.2, 00:02:57, Ethernet0/0
O    192.168.20.0/24 [110/11] via 192.168.1.2, 00:02:57, Ethernet0/0
C    192.168.1.0/24 is directly connected, Ethernet0/0
O    192.168.2.0/24 [110/74] via 192.168.1.2, 00:02:57, Ethernet0/0
S*   0.0.0.0/0 [1/0] via 168.205.34.97

Tabel routing pada R2

R2#sh ip route
Gateway of last resort is not set
C    192.168.10.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0.10
C    192.168.20.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0.20
C    192.168.1.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0
C    192.168.2.0/24 is directly connected, Serial1/0

Kita lihat belum ada entri yang didapatkan dari proses OSPF, karena network yang di advertise oleh R1 telah diketahui sebelumnya oleh R2 karena merupakan network yang terhubung langsung pada R2. Juga kita lihat belum ada default gateway yang tercatat dalam tabel routing, pada pembahasan RIP kita sudah mempelajari bagaimana memasukkan routing statik kedalam proses RIP, berikut adalah cara untuk memasukkan routing statik kedalam distribusi OSPF

R1#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
R1(config)#router ospf 1
R1(config-router)#default-information originate
R1(config-router)#^Z
R1#

Perintah diatas berarti memerintahkan proses OSPF untuk menyertakan informasi default route pada router lain. Kita lihat hasilnya dalam router R2

R2#sh ip route
Gateway of last resort is 192.168.1.1 to network 0.0.0.0
C    192.168.10.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0.10
C    192.168.20.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0.20
C    192.168.1.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0
C    192.168.2.0/24 is directly connected, Serial1/0
O*E2 0.0.0.0/0 [110/1] via 192.168.1.1, 00:01:01, FastEthernet0/0

Sekarang kita lakukan konfigurasi pada R3, sebelum menjalankan proses OSPF, kita akan menambahkan beberapa interface loopback yang akan digunakan untuk mensimulasikan network fisik yang akan dijadikan anggota network pada Area 1, hasilnya seperti berikut

R3#sh ip int brief
Interface                  IP-Address      OK? Method Status                Protocol
Serial0/0                  192.168.2.2     YES NVRAM  up                    up
Ethernet1/0                192.168.3.1     YES NVRAM  up                    up
Loopback0                  172.16.0.1      YES manual up                    up
Loopback1                  172.16.1.1      YES manual up                    up
Loopback2                  172.16.2.1      YES manual up                    up
Loopback3                  172.16.3.1      YES manual up                    up
Loopback4                  172.16.4.1      YES manual up                    up
Loopback5                  172.16.5.1      YES manual up                    up
Loopback6                  172.16.6.1      YES manual up                    up
Loopback7                  172.16.7.1      YES manual up                    up

Setelah itu kita akan menjalankan proses OSPF multi area pada router R3

R3#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
R3(config)#router ospf 1
R3(config-router)#network 192.168.0.0 0.0.255.255 area 0
R3(config-router)#network 172.16.0.0 0.0.7.255 area 1
R3(config-router)#^Z
R3#

0.0.7.255 adalah wildcard bit yang kita gunakan untuk network pada area 1, kita dapatkan dengan mengurangkan 255.255.255.255 dengan subnet mask 255.255.248.0 (/21), subnet mask /21 ini dapat mewakili semua network dari network 172.16.0.0 sampai 172.16.7.0.

Kita lihat tabel routing pada R2 setelah mendapatkan advertisement dari R3 (yang merupakan Area Border Router)

R2#sh ip route
Codes: C – connected, S – static, R – RIP, M – mobile, B – BGP
D – EIGRP, EX – EIGRP external, O – OSPF, IA – OSPF inter area
N1 – OSPF NSSA external type 1, N2 – OSPF NSSA external type 2
E1 – OSPF external type 1, E2 – OSPF external type 2
i – IS-IS, su – IS-IS summary, L1 – IS-IS level-1, L2 – IS-IS level-2
ia – IS-IS inter area, * – candidate default, U – per-user static route
o – ODR, P – periodic downloaded static route
Gateway of last resort is 192.168.1.1 to network 0.0.0.0
C    192.168.10.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0.10
172.16.0.0/32 is subnetted, 8 subnets
O IA 172.16.5.1 [110/65] via 192.168.2.2, 00:04:31, Serial1/0
O IA 172.16.4.1 [110/65] via 192.168.2.2, 00:04:31, Serial1/0
O IA 172.16.7.1 [110/65] via 192.168.2.2, 00:04:31, Serial1/0
O IA 172.16.6.1 [110/65] via 192.168.2.2, 00:04:31, Serial1/0
O IA 172.16.1.1 [110/65] via 192.168.2.2, 00:04:31, Serial1/0
O IA 172.16.0.1 [110/65] via 192.168.2.2, 00:04:31, Serial1/0
O IA 172.16.3.1 [110/65] via 192.168.2.2, 00:04:31, Serial1/0
O IA 172.16.2.1 [110/65] via 192.168.2.2, 00:04:31, Serial1/0
C    192.168.20.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0.20
C    192.168.1.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0
C    192.168.2.0/24 is directly connected, Serial1/0
O    192.168.3.0/24 [110/74] via 192.168.2.2, 00:04:32, Serial1/0
O*E2 0.0.0.0/0 [110/1] via 192.168.1.1, 00:04:32, FastEthernet0/0

Semua entri yang terdapat tanda huruf O IA (OSPF Inter Area), menunjukkan entri yang berada pada area lain.

Route Summarization

Sudah kita singgung diatas bahwa salah satu keuntungan multiple area adalah kita bisa melakukan route summarization sehingga entri route yang diadvertise ke area lain bisa dibuat seminimal mungkin.

R3#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
R3(config)#router ospf 1
R3(config-router)#area 1 range 172.16.0.0 255.255.248.0
R3(config-router)#^Z
R3#

Subnet mask yang dipakai diatas (255.255.248.0) telah mencakup network dari 172.16.0.0 sampai 172.16.7.0, kini seharusnya R2 menerima 1 entri route summary saja.

R2#sh ip route
Gateway of last resort is 192.168.1.1 to network 0.0.0.0
C    192.168.10.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0.10
172.16.0.0/21 is subnetted, 1 subnets
O IA    172.16.0.0 [110/65] via 192.168.2.2, 00:00:04, Serial1/0
C    192.168.20.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0.20
C    192.168.1.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0
C    192.168.2.0/24 is directly connected, Serial1/0
O    192.168.3.0/24 [110/74] via 192.168.2.2, 00:13:38, Serial1/0
O*E2 0.0.0.0/0 [110/1] via 192.168.1.1, 00:13:38, FastEthernet0/0

Router ID

Jika kita lihat neighbor mana saja yang telah menjalin neighbor relationship pada R2 kita dapatkan sebagai berikut

R2#sh ip ospf nei
Neighbor ID     Pri   State           Dead Time   Address         Interface
172.30.7.1 0   FULL/  –        00:00:36    192.168.2.2     Serial1/0
192.168.1.1 1   FULL/BDR        00:00:37    192.168.1.1     FastEthernet0/0
R2#

Yang dicetak tebal merupakan router-id dari neighbor yang menjalin neighbor relationship dengan R2, router id pada ospf memiliki ciri sebagai berikut:

  • Sebagai tanda pengenal (identifier) router dalam proses OSPF
  • Defaultnya merupakan IP address paling besar dari interface-interface fisik pada saat start up
  • Jika ada interface loopback yang aktif, maka IP address (yang paling besar) dari loopback akan menjadi router-id
  • Dapat di konfigurasi manual dengan perintah router-id dibawah proses OSPF, perhatikan contoh berikut
R3#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
R3(config)#router ospf 1
R3(config-router)#router-id 3.3.3.3
Reload or use “clear ip ospf process” command, for this to take effect
R3(config-router)#^Z
R3#clear ip ospf process
Reset ALL OSPF processes? [no]: yes
R3#

Kini kita lihat pada R2

R2#sh ip ospf neighbor
Neighbor ID     Pri   State           Dead Time   Address         Interface
3.3.3.3 0   FULL/  –        00:00:39    192.168.2.2     Serial1/0
192.168.1.1       1   FULL/BDR        00:00:33    192.168.1.1     FastEthernet0/0

TroubleShoot

  • Cek apakah neighbor relationship telah terjalin dengan router-router yang diharapkan dengan menggunakan perintah show ip ospf neighbor.
  • Cek hal-hal yang harus sama (matching) agar 2 router dapat menjalin neighbor relationship (Hello dan Dead timer, network mask, Area ID, dan password jika dikonfigurasi menggunakan pasword) dengan perintah-perintah debug.
  • Cara terbaik untuk troubleshoot neighbor relationship adalah dengan perintah debug ip ospf adj dan menganalisa output-output nya.
  1. Agustus 14, 2009 pukul 1:41 pm

    Bos ini! ilmu jaringannya mantap ya….!!!

  2. didit
    Oktober 7, 2009 pukul 5:31 am

    ilmunya keren om…
    makasih buat infonya om
    sangat bermanfaat sekali buat newbie jaringan…

  3. alfa
    Maret 9, 2010 pukul 12:20 pm

    keren….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: