Beranda > @GNS3 Lab, Routing TCP/IP Volume 1 > Konfigurasi Routing Statik : IPv4 Sederhana

Konfigurasi Routing Statik : IPv4 Sederhana

Update, Tabel routing mendapatkan informasi untuk entri didalamnya melalui 3 cara :

  • Informasi dimasukkan berdasarkan pada apa yang diketahui router sebagai subnet yang terhubung langsung
  • Informasi dapat dimasukkan secara manual dengan cara statik routing
  • Informasi dapat dimasukkan secara otomatis melalui protokol routing dinamik

Pada intinya, routing statik lebih diutamakan dari pada routing dinamik dalam keadaan tertentu. Karena pada setiap proses, semakin otomatis semakin kecil kontrol atas proses tersebut. Meskipun routing dinamik tidak membutuhkan banyak intervensi manusia, routing statik memungkinkan kontrol yang presisi terhadap perilaku routing dalam network. Harga yang harus dibayar atas kontrol presisi ini adalah keharusan untuk mengkonfigurasi ulang secara manual setiap kali ada perubahan topologi network.

Topologi dan Konfigurasi Awal

Gambar dibawah menunjukkan sebuah network dengan 4 router dan 6 data link. Perhatikan bahwa subnet-subnet network 10.0.0.0 tidak bersebelahan. Ada subnet major network (192.168.1.192 pada link antara Tigger-Piglet) yang memisahkan 10.1.0.0 dari subnet 10.0.0.0 yang lain. Subnet-subnet 10.0.0 juga di subnet dengan mask berbeda-beda, ada yang menggunakan subnet mask 16-bit dan ada juga yang menggunakan subnet mask 24-bit. Terakhir, address subnet (fast) ethernet link yang terhubung pada router Pooh adalah subnet all-zero (subnet yang bit-bit subnetnya 0), yang pada protokol routing classful (mis:RIP, IGRP) skema seperti ini dapat menimbulkan beberapa problem. Tapi untuk routing statik kali ini tidak ada masalah.

topology_gns3

Pooh#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Pooh(config)#int s1/0
Pooh(config-if)#ip addr 192.168.1.65 255.255.255.224
Pooh(config-if)#no shut
Pooh(config-if)#int fa0/0
Pooh(config-if)#ip addr 192.168.1.1 255.255.255.224
Pooh(config-if)#no shut
Pooh(config-if)#^Z
Pooh#
Tigger#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Tigger(config)#int s1/0
Tigger(config-if)#ip addr 192.168.1.66 255.255.255.224
Tigger(config-if)#no shut
Tigger(config-if)#int s1/1
Tigger(config-if)#ip addr 10.4.6.1 255.255.255.0
Tigger(config-if)#no shut
Tigger(config-if)#int e2/0
Tigger(config-if)#ip addr 192.168.1.193 255.255.255.224
Tigger(config-if)#no shut
Tigger(config-if)#^Z
Tigger#
Piglet#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Piglet(config)#int e1/0
Piglet(config-if)#ip addr 192.168.1.194 255.255.255.224
Piglet(config-if)#no shut
Piglet(config-if)#int f0/0
Piglet(config-if)#ip addr 10.1.5.1 255.255.0.0
Piglet(config-if)#no shut
Piglet(config-if)#^Z
Piglet#
Eeyore#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Eeyore(config)#int s1/0
Eeyore(config-if)#ip addr 10.4.6.2 255.255.255.0
Eeyore(config-if)#no shut
Eeyore(config-if)#int f0/0
Eeyore(config-if)#ip addr 10.4.7.1 255.255.255.0
Eeyore(config-if)#no shut
Eeyore(config-if)#^Z
Eeyore#

Dasar-Dasar Teori

Ada 3 langkah dalam prosedur menambahkan routing statik:

  1. Untuk setiap data link dalam network, identifikasi setiap subnet / address networknya.
  2. Untuk setiap router, identifikasi semua data link yang tidak terhubung langsung pada router tersebut
  3. Untuk setiap router, tuliskan (konfigurasikan) entri route untuk setiap address network yang tidak terhubung langsung tersebut.

Tidak perlu mengkonfigurasikan entri route untuk data link yang terhubung langsung, karena setiap address dan mask yang dikonfigurasikan pada interface router akan otomatis dituliskan dalam tabel routing.

Misalkan dalam network diatas, terdapat 6 subnet sebagai berikut:

  • 10.1.0.0/16
  • 10.4.6.0/24
  • 10.4.7.0/24
  • 192.168.1.192/27
  • 192.168.1.64/27
  • 192.168.1.0/27

Untuk mengkonfigurasi routing statik pada Piglet, subnet-subnet yang tidak terhubung langsung pada piglet adalah sebagai berikut:

  • 10.4.6.0/24
  • 10.4.7.0/24
  • 192.168.1.64/27
  • 192.168.1.0/27

Kemudian untuk setiap subnet yang tidak terhubung langsung tersebut kita tuliskan entri dalam tabel routing sebagai berikut

Piglet#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Piglet(config)#ip route 10.4.6.0 255.255.255.0 192.168.1.193
Piglet(config)#ip route 10.4.7.0 255.255.255.0 192.168.1.193
Piglet(config)#ip route 192.168.1.64 255.255.255.224 192.168.1.193
Piglet(config)#ip route 192.168.1.0 255.255.255.224 192.168.1.193
Piglet(config)#^Z
Piglet#

Dengan langkah yang sama kita dapat memasukkan entri route untuk 3 router lain sebagai berikut:

Pooh#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Pooh(config)#ip route 10.4.6.0 255.255.255.0 192.168.1.66
Pooh(config)#ip route 192.168.1.192 255.255.255.224 192.168.1.66
Pooh(config)#ip route 10.1.0.0 255.255.0.0 192.168.1.66
Pooh(config)#ip route 10.4.7.0 255.255.255.0 192.168.1.66
Pooh(config)#^Z
Pooh#
Tigger#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Tigger(config)#ip route 192.168.1.0 255.255.255.224 192.168.1.65
Tigger(config)#ip route 10.4.7.0 255.255.255.0 10.4.6.2
Tigger(config)#ip route 10.1.0.0 255.255.0.0 192.168.1.194
Tigger(config)#^Z
Tigger#
Eeyore#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Eeyore(config)#ip route 192.168.1.0 255.255.255.224 10.4.6.1
Eeyore(config)#ip route 192.168.1.64 255.255.255.224 10.4.6.1
Eeyore(config)#ip route 192.168.1.192 255.255.255.224 10.4.6.1
Eeyore(config)#ip route 10.1.0.0 255.255.0.0 10.4.6.1
Eeyore(config)#^Z
Eeyore#

Perintah untuk memasukkan routing untuk IPv4 adalah dengan ip route, kemudian diikuti oleh address network yang akan dimasukkan dalam tabel, subnet mask yang menentukan porsi network dari address tersebut, kemudian address interface next-hop router yang terhubung langsung.

Alternatif lain perintah konfigurasi routing statik IPv4 adalah dengan menentukan nama interface pintu keluar (outgoing interface) dimana address network dapat dicapai sebagai ganti dari address router next-hop. Misalnya, alternatif entri route yang mungkin untuk Tigger adalah sebagai berikut:

Tigger#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Tigger(config)#ip route 192.168.1.0 255.255.255.224 s1/0
Tigger(config)#ip route 10.4.7.0 255.255.255.0 s1/1
Tigger(config)#ip route 10.1.0.0 255.255.0.0 e2/0
Tigger(config)#^Z
Tigger#

Ada beberapa kondisi yang harus dipenuhi sebelum routing statik dituliskan dalam tabel routing. IP routing harus di enable, address next-hop (jika digunakan) harus dapat dijangkau, dan interface exit (outgoing interface) harus sudah dikonfigurasi dengan IP address, dan statusnya harus UP.

Contoh berikut membandingkan isi tabel routing yang dikonfigurasi dengan menunjuk pada address router next-hop dengan isi tabel routing yang dihasilkan dari konfigurasi alternatif. Perhatikan ada beberapa ketidakakuratan: semua address yang ditentukan dengan routing statik menggunakan interface exit (outgoing interface) dikenali dalam tabel routing sebagai network yang seolah-olah terhubung langsung dengan interface exit tersebut.

pertama:

Tigger#sh ip route
Codes: C – connected, S – static, R – RIP, M – mobile, B – BGP
D – EIGRP, EX – EIGRP external, O – OSPF, IA – OSPF inter area
N1 – OSPF NSSA external type 1, N2 – OSPF NSSA external type 2
E1 – OSPF external type 1, E2 – OSPF external type 2
i – IS-IS, su – IS-IS summary, L1 – IS-IS level-1, L2 – IS-IS level-2
ia – IS-IS inter area, * – candidate default, U – per-user static route
o – ODR, P – periodic downloaded static route
Gateway of last resort is not set
10.0.0.0/8 is variably subnetted, 3 subnets, 2 masks
C       10.4.6.0/24 is directly connected, Serial1/1
S 10.4.7.0/24 [1/0] via 10.4.6.2
S 10.1.0.0/16 [1/0] via 192.168.1.194
192.168.1.0/27 is subnetted, 3 subnets
C       192.168.1.64 is directly connected, Serial1/0
S 192.168.1.0 [1/0] via 192.168.1.65
C       192.168.1.192 is directly connected, Ethernet2/0

kedua:

Tigger#
Tigger#sh ip route
Codes: C – connected, S – static, R – RIP, M – mobile, B – BGP
D – EIGRP, EX – EIGRP external, O – OSPF, IA – OSPF inter area
N1 – OSPF NSSA external type 1, N2 – OSPF NSSA external type 2
E1 – OSPF external type 1, E2 – OSPF external type 2
i – IS-IS, su – IS-IS summary, L1 – IS-IS level-1, L2 – IS-IS level-2
ia – IS-IS inter area, * – candidate default, U – per-user static route
o – ODR, P – periodic downloaded static route
Gateway of last resort is not set
10.0.0.0/8 is variably subnetted, 3 subnets, 2 masks
C       10.4.6.0/24 is directly connected, Serial1/1
S       10.4.7.0/24 is directly connected, Serial1/1
S       10.1.0.0/16 is directly connected, Ethernet2/0
192.168.1.0/27 is subnetted, 3 subnets
C       192.168.1.64 is directly connected, Serial1/0
S 192.168.1.0 is directly connected, Serial1/0
C       192.168.1.192 is directly connected, Ethernet2/0
Tigger#

Pilihan ketiga untuk routing statik adalah dengan menggunakan kombinasi outgoing interface dengan address router next-hop. Address next-hop dipasangkan dengan outgoing interface yang telah ditentukan. Jika outgoing interface down, maka entri route akan dihapus dari tabel routing, meskipun address next-hop masih bisa dijangkau melalui jalur lain. Hal ini meminimasi pencarian dalam tabel yang berhubungan dengan mencari outgoing interface yang bersesuaian dengan address next-hop dan entri didalam tabel nampak sebagai route dengan jarak 1, bukan network yang terhubung langsung.

Tigger#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Tigger(config)#ip route 10.1.0.0 255.255.0.0 Ethernet2/0 192.168.1.194
Tigger(config)#ip route 10.4.7.0 255.255.255.0 Serial1/1 10.4.6.2
Tigger(config)#ip route 192.168.1.0 255.255.255.224 Serial1/0 192.168.1.65
Tigger(config)#^Z
Tigger#

Mengarahkan routing statik pada outgoing interface broadcast tanpa menentukan address next-hop dapat menyebabkan traffik berlebihan dalam network broadcast, dan juga banyak memakan memori router. Misalnya, kita lihat perintah ip route 10.1.0.0 255.255.0.0 Ethernet2/0 pada router Tigger. Router mengasumsikan 10.1.0.0 sebagai network yang terhubung langsung, seperti terlihat dalam tabel routing. Karena itu, ketika berusaha untuk mem-forward ke setiap address yang berada pada subnet 10.1.0.0/16, router akan mengirimkan ARP request untuk mendapatkan MAC address dari mesin tujuan. Setiap kali ada usaha untuk mem-forward ke network tersebut akan menyebabkan adanya ARP request, terlepas dari valid atau tidaknya address tujuan, dan akan ada ARP response jika router pada network broadcast memberikan tanggapan atas nama network 10.1.0.0 (disini router yang memberi tanggapan bertindak sebagai proxy ARP), dan akhirnya berpotensi menimbulkan ARP cache yang besar dalam router.

Dengan memberikan tambahan address next-hop pada entri routing statik, ip route 10.1.0.0 255.255.0.0 Ethernet2/0, maka router tidak lagi berasumsi bahwa network destination terhubung langsung. Satu-satunya traffic ARP yang ada hanyalah untuk address next-hop yang terjadi hanya sekali ketika pertama kali ada paket yang ditujukan ke network 10.1.0.0, bukan setiap kali ada paket yang ditujukan pada network 10.1.0.0.

pertama:

Tigger#sh ip route static
10.0.0.0/8 is variably subnetted, 3 subnets, 2 masks
S       10.4.7.0/24 is directly connected, Serial1/1
S       10.1.0.0/16 is directly connected, Ethernet2/0
192.168.1.0/27 is subnetted, 3 subnets
S       192.168.1.0 is directly connected, Serial1/0
Tigger#sh arp
Protocol  Address          Age (min)  Hardware Addr   Type   Interface
Internet  10.1.8.1                4   cc06.0a20.0010  ARPA   Ethernet2/0
Internet  10.1.5.1               18   cc06.0a20.0010  ARPA   Ethernet2/0
Internet  192.168.1.193           –   cc05.0a20.0020  ARPA   Ethernet2/0
Internet  192.168.1.194          21   cc06.0a20.0010  ARPA   Ethernet2/0
Tigger#

kedua:

Tigger#sh ip route static
10.0.0.0/8 is variably subnetted, 3 subnets, 2 masks
S       10.4.7.0/24 [1/0] via 10.4.6.2, Serial1/1
S       10.1.0.0/16 [1/0] via 192.168.1.194, Ethernet2/0
192.168.1.0/27 is subnetted, 3 subnets
S       192.168.1.0 [1/0] via 192.168.1.65, Serial1/0
Tigger#sh arp
Protocol  Address          Age (min)  Hardware Addr   Type   Interface
Internet  192.168.1.193           –   cc05.0a20.0020  ARPA   Ethernet2/0
Internet  192.168.1.194          26   cc06.0a20.0010  ARPA   Ethernet2/0
Tigger#

Tabel routing dan ARP cache pertama menunjukkan bahwa entry routing statik dimasukkan dengan outgoing interface dan tanpa address next-hop. Route dianggap terhubung langsung (directly connected) dan terdapat beberapa entri pada ARP cache untuk tujuan network 10.1.0.0. MAC address untuk setiap entri adalah sama, yakni hardware address router dengan IP address 192.168.1.194. Router Piglet memberikan ARP reply untuk semua host pada network 10.1.0.0. seperti yang sudah disebutkan dalam postingan sebelumnya, proxy ARP dienable secara default dalam IOS.

Tabel-tabel kedua menunjukkan tabel routing dan ARP cache ketika address next-hop dicantumkan setelah outgoing interface pada saat konfigurasi routing statik. Perhatikan, route tidak lagi dianggap directly connected. Network dicapai via 192.168.1.194 dengan outgoing interface adalah Ethernet2/0. ARP cache tidak memiliki entri-entri untuk network 10.1.0.0, yang ada hanya address-address yang benar-benar terhubung langsung termasuk 192.168.1.194 (Piglet).

  1. Belum ada komentar.
  1. April 9, 2009 pukul 3:30 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: