Beranda > CCNA exam-prep > IP Pada Layer Network

IP Pada Layer Network

Fungsi Layer Network

Layer Network model OSI (setara layer Internet pada TCP/IP) memiliki fungsi utama :

  • Menentukan pilihan alur terbaik bagi paket berdasarkan pada address logik pada tabel routing
  • Request ICMP,ARP, dan Proxy ARP

Internet Control Messaging Protocol (ICMP) digunakan oleh program ping dan traceroute. Packet Internet Groper (ping) memungkinkan untuk mem-validasi keberadaan suatu IP address dan dapat menerima request-request.

  • Ping adalah echo dan tanggapannya adalah echo response.
  • Router mengirimkan pesan Destination Unreachable (tujuan tidak dapat dicapai) ketika mereka tidak dapat mencapai network tujuan dan terpaksa harus menge-drop paket. Router yang menge-drop paket mengirimkan pesan ICMP DU.

Traceroute dapat melacak jalur yang diambil dari sebuah host ke host pada network tujuan. Traceroute juga dapat melaporkan IP address setiap router yang disinggahi (hop router) dalam perjalanan. Hal ini sangat berguna terutama ketika kita mencurigai ada salah satu router perantara yang mati.

Address Resolution Protocol (ARP) memetakan IP address yang diketahui ke MAC address dengan cara mengirimkan broadcast ARP. Ketika host tujuan berada pada subnet lain, maka host pengirim akan mengirimkan broadcasts ARP untuk address ethernet dari router atau default gateway  agar MAC address yang dikembalikan adalah MAC address dari router tersebut.

Reverse ARP (RARP) memetakan MAC address yang diketahui ke IP address.

Proxy ARP memungkinkan router untuk memberikan respon pada ARP request yang telah dikirimkan untuk host remote (berada pada subnet lain).

IP Addressing dan Formatnya

IPv4 addresses :

  • Terdiri dari 32 bit
  • Dibagi menjadi 4 octet (masing-masing 8 bit)
  • Menggunakan format dotted-decimal, misal : 167.205.34.10
  • Memiliki nilai (tiap octetnya) antara 0 dan 255

Binary

Untuk memahami tentang IP addressing, kita harus mengerti bilangan biner. Biner adalah bahasa kokmputer yang digambarkan sebagai angka 0 atau 1. Address biner 32-bit akan berupa seperti 10101010101010101010101010101010. 32 bit tersebut dapat di kelompokkan menjadi 4 octet seperti 10101010 10101010 10101010 10101010, untuk kemudian dikonversi menjadi format desimal. Ketika nilai bit adalah 1, maka bit dianggap berada dalam status on dan kita dapat menghitung nilai biner-nya tergantung pada letaknya dalam octet. Gambar dibawah menampilkan nilai biner dan nilai desimal-nya untuk setiap bit dalam octet.

1-binary-value

Mengkonversi Bilangan Biner ke Desimal

Dengan menggunakan nilai desimal yang telah dihitung untuk setiap bit seperti pada tabel diatas, kita dapat menkonversi bit-bit tersebut menjadi format desimal dengan cara memasangkan setiap bit dengan nilai desimalnya, kemudian menjumlahkan total setiap nilai desimal tersebut.

Contoh:

2-binary-example

Dari contoh diatas, bit ke-4 dan terakhir bernilai 1. Maka nilai desimal dari bit-bit tersebut dapat kita jumlah kan, dan hasilnya adalah nilai desimal dari octet 00010001 diatas = 17 (16 + 1).

Kini kita dapat mengkonversi address biner 32-bit menjadi format address dotted-decimal. Pada contoh kali ini address biner 32-bitnya adalah 10110000 01010101 11000011 00111100.

Dimulai dari octet pertama 10110000. tabel berikut menunjukkan konversi biner 10110000 menjadi nilai desimal nya.

3-binary-example-1

Dari tabel diatas nilai total desimalnya adalah = 176 (128 + 32 + 16).

Untuk octet kedua 01010101. Tabel berikut menunjukkan proses konversi biner ke desimalnya.

4-binary-example-2

Dalam tabel diatas, nilai desimal octetnya = 85 (64 + 16 + 4 + 1).

Octet ketiga 11000011. Tabel berikut menunjukkan proses konversinya.

5-binary-example-31

Dari tabel diatas, nilai desimal octetnya adalah = 195 (128 + 64 + 2 + 1).

Octet terakhir 00111100. Tabel berikut menunjukkan proses konversinya.

6-binary-example-4

Dari tabel diatas, total nilai desimal dari octet terakhir adalah = 60 (32 + 16 + 8 + 4).

Dari hasil penghitungan diatas, format dotted-decimal dari biner 10110000 01010101 11000011 00111100 adalah 176.85.195.60

Mengkonversi Bilangan Desimal ke Biner

Kita juga harus dapat mengkonversi sebuah IP address dari format dotted-decimal menjadi format biner. Akan lebih baik jika mulai bekerja dari octet dari kiri ke kanan.

Contoh IP address = 206.110.28.62

Octet pertama, 206, dapat dituliskan sebagai berikut :

7-decimal-to-binary

Nilai octet lebih besar dari 128,  jadi bit pertama yang setara dengan 128 di set on (nilai=1). Kurangkan nilai 128 dari 206.

206 – 128 = 78

Sisa angka 78 lebih besar dari 64, jadi bit kedua yang setara dengan 64 di set on (nilai=1). Kurangkan nilai 64 dari 78

78 – 64 = 14

Sisa angka 14 kurang dari 32 dan 16, jadi bit ke 3 yang setara dengan 32 dan bit ke 4 yang setara dengan nilai 16 di set off (nilai=0). Sisa 14 lebih besar dari 8, jadi bit ke-5 yang setara dengan 8 di set on (nilai=1), kemudian kurangkan nilai 8 dari 14

14 – 8 = 6

Sisa 6 lebih besar dari 4, jadi bit ke-6 yang setara dengan 4 di set on, dan kurangkan angka 4 dari 6

6 – 4 = 2

Sisanya 2, setara dengan bit ke-7, jadi bit ke-7 juga di set on

2 – 2 = 0

Bit terakhir di set off karena sisanya 0.

Kelas-Kelas IP Address

IP address 32-bit dituliskan dalam bentuk dotted-decimal. Setiap address dapat dibagi menjadi 2 bagian :

  • Network
  • Host

Jumlah octet network dan octet host menentukan kelas suatu IP address. Tabel berikut menunjukkan 3 jenis kelas IP.

8-classfull

TCP/IP mendefinisikan 2 kelas tambahan :

  • Class D: digunakan untuk address multicast.
  • Class E: digunakan untuk tujuan penelitian.

Tabel berikut me-list nilai-nilai yang mungkin bagi octet pertama untuk setiap kelas network. Dengan angka-angka berikut kita dapat dengan mudah mengidentifikasi kelas suatu IP address dengan melihat nilai pada octet pertama.

9-first-octet

Address 127.x.x.x digunakan untuk address loopback.

Perlu diingat, satu octet setara dengan 8 bit (1 byte). Porsi network Kelas A adalah 1 byte, dan sisanya 3 byte termasuk porsi host. Porsi network kelas B adalah 2 byte, dan sisanya 2 byte termasuk porsi host. Porsi network kelas C adalah 3 byte, dan sisanya 1 byte adalah porsi network. Semakin banyak porsi byte semakin banyak jumlah network yang mungkin untuk kelas tersebut. Begitu juga untuk porsi host nya.

Network ID adalah IP address pertama dalam network. Dapat juga disebut subnet ID. Setiap bit host dari network ID di set off (nilai=0). Misal network ID kelas A : ID is 16.0.0.0.

IP Broadcast, adalah IP address terakhir dalam network. Setiap bit host dari IP Broadcast di set on (nilai = 1). Misal Broadcast IP dari kelas A : 16.255.255.255.

Berikut adalah penghitungan jumlah network untuk setiap kelas :

27– 2 = 126 jumlah total network untuk kelas A

214– 2 = 16,382 jumlah total network untuk kelas B

221– 2 = 2,097,150 jumlah total network untuk kelas C

Untuk setiap network kelas A:

  • Network = 1 byte (8 bits)
  • Host = 3 bytes (24 bits)
  • 224– 2 = 16,777,214 total hosts per network

Untuk setiap network kelas B:

  • Network = 2 bytes (16 bits)
  • Host = 2 bytes (16 bits)
  • 216– 2 = 65,534 total hosts per network

Untuk setiap network kelas C :

  • Network = 3 bytes (24 bits)
  • Host = 1 byte (8 bits)
  • 28– 2 = 254 total hosts per network

Subnet Masks

Sub-network (subnet) memungkinkan kita untuk memecah-mecah network dengan cakupan jumlah IP address yang besar menjadi beberapa bagian (subnet) yang lebih kecil, dan cakupan IP address yang dapat di manage dengan mudah. Cakupan (range) address yang lebih kecil berarti jumlah host yang berada dalam network lebih sedikit.  Setiap subnet menjadi satu broadcast domain tersendiri. Semua mesin yang berada dalam satu broadcast domain yang sama akan saling menerima paket broadcast dari masing-masing mesin. Bayangkan jika satu network kelas A yang terdiri dari 16,777,214 host berada dalam broadcast domain yang sama, traffic broadcast akan jadi sangat padat. Pembuatan subnet memungkinkan kita untuk memecah-mecah network yang besar ini menjadi network-network dengan cakupan address yang lebih kecil.

Subnet mask digunakan untuk mengidentifikasi bagian IP address yang mana yang termasuk sebagai network. Seperti halnya IP address, subnet mask terdiri dari 32-bit. Porsi network diwakili oleh semua bit dengan nilai

Subnet mask default untuk kelas A,B,dan C adalah sebagai berikut :

  • Kelas A : 255.0.0.0 (11111111 00000000 000000000 000000000)
  • Kelas B : 255.255.0.0 (111111111 1111111111 000000000 000000000)
  • Kelas C : 255.255.255.0 (111111111 1111111111 111111111 0000000000)

Kini kita mengetahui subnet mask (default) untuk sebuah IP address, ada suatu operasi matematika yang disebut Boolean AND yang dapat membantu mengidentifikasi beberapa aspek penting IP network. dengan operasi matematika ini kita dapat menentukan network ID dan IP broadcast berdasarkan IP address dan subnet masknya.

Boolean AND beroperasi sebagai berikut:

  • Tentukan nilai biner IP address
  • Tentukan nilai biner subnet mask
  • Pasangkan kedua nilai biner satu diatas yang lain
  • Jika kedua bit yang sejajar bernilai 1, maka nilai bit = 1
  • Jika kedua bit yang sejajar tidak bernilai 1, maka nilai bit = 0

Pada contoh berikut, nilai IP address = 135.252.4.0, dan subnet mask = 255.255.0.0.

10-booleanand

Network ID dalam contoh diatas adalah 135.252.0.0. Dengan menggunakan Boolean kita dapat melihat bit-bit host dalam 2 octet terakhir adalah bit 0, yang menentukan network ID. Jika kita mengubah bit-bit host ini menjadi on (nilai=1) kita akan mendapatkan Broadcast IP dalam hal ini adalah 135.252.255.255

Notasi Classless Interdomain Routing (CIDR) juga dapat digunakan untuk menunjukkan subnet mask. Mask dituliskan dalam notasi slash sebagai berikut:

  • Class A: /8
  • Class B: /16
  • Class C: /24

Private (RFC 1918) Addressing

Alokasi address private IANA termasuk dari range kelas A,B,dan C sebagai berikut:

  • Kelas A: 10.0.0.0 – 10.255.255.255
  • Kelas B: 172.16.0.0 – 172.31.255.255
  • Kelas C: 192.168.0.0 – 192.168.255.255:

NAT mentranslasikan satu IP address menjadi IP address yang lain. Biasanya dilakukan antara IP address private dan publik. Misalnya, sebua IP private dapat ditranslasikan menjadi IP publik dengan menggunakan NAT untuk transmisi keluar ke internet. NAT juga dapat mentranslasikan IP publik menjadi IP private untuk transmisi dari internet kedalam internal network.

PAT dapat mentranslasikan beberapa address dalam network internal menjadi satu IP publik tunggal, yang juga disebut translasi one-to-many. PAT tersedia sebagai NAT overloading pada router Cisco.

Subnetting IP

Untuk sebuah IP address yang memiliki subnet mask 255.255.0.0 atau 255.255.255.0, kita dapat mengkopi nilai octet dari IP address asli yang memiliki subnet mask 255. Untuk octet sisanya, kita dapat memberikan nilai 0. Misalnya:

IP address = 139.42.6.0

Subnet Mask = 255.255.0.0

The Network ID is 139.42.0.0.

Untuk menentukan IP Broadcast dari IP address dan subnet mask, gantikan saja octet-octet bernilai 0 dalam Network ID menjadi 255. Dengan cara ini, maka IP Broadcast dari contoh diatas adalah 139.42.255.255.

Untuk memahami subnetting yang lebih sulit, kita harus mengurai IP address kedalam bit-bit network, host, dan subnet. Bit-bit network ditentukan oleh kelas network. kelas A memiliki 8 network bit, kelas B memiliki 16 network bit, dan kelas C memiliki 24 network bit. Nilai network bit selalu konstan. Sebaliknya, nilai bit pada host dapat dibagi dengan bit subnet.

Untuk menentukan bit-bit subnet sebuah network kita harus melihat subnet mask dalam bentuk biner. Misalnya :

IP address = 176.85.195.60/22

Subnet Mask = 255.255.252.0

Subnet Mask in Binary = 11111111 11111111 11111100 00000000

Network bits = 16

Host bits = 10

Subnet bits = 6

Subnet mask dalam biner memiliki 22 bit dengan nilai 1, yang berarti notasi CIDR nya adalah /22. Berdasarkan pada octet pertama, IP address ini termasuk network kelas B. Network kelas B memiliki 16 network bit. Sedangkan bit-bit yang bernilai 0 adalah bit-bit dari host, yang dalam hal ini ada 10 bit. Sisa dari bit-bit diatas adalah bit dari subnet sebanyak 6 bit.

Tabel berikut adalah tabel konversi desimal ke nilai biner yang dapat membantu konversi address lebih cepat.

11-decimalbinarytable

Dengan tabel diatas, kita dapat menggunakannya untuk mencari nilai-nilai IP addres, misal

IP address = 100.15.209.0/23
Subnet Mask = 255.255.254.0
Subnet Mask in Binary = 11111111 11111111 11111110 00000000
Network bits = 8
Host bits = 9
Subnet bits = 15

IP address = 128.216.55.0/24
Subnet Mask = 255.255.255.0
Subnet Mask in Binary = 11111111 11111111 11111111 00000000
Network bits = 16
Host bits = 8
Subnet bits = 8

IP address = 222.110.8.61/28
Subnet Mask = 255.255.255.240
Subnet Mask in Binary = 11111111 11111111 11111111 11110000
Network bits = 24
Host bits = 4
Subnet bits = 4

Menghitung Jumlah Host dalam Subnet

Untuk menghitung jumlah host dalam satu subnet, kita dapat menggunakan formula 2H – 2. Dengan H adalah jumlah bit host dalam network. Misalnya

IP address = 176.85.195.60/22
Subnet Mask = 255.255.252.0
Network bits = 16
Host bits = 10
Subnet bits = 6
210– 2 = 1022 Hosts

IP address = 100.15.209.0/23
Subnet Mask = 255.255.254.0
Network bits = 8
Host bits = 9
Subnet bits = 15
29– 2 = 510 Hosts

IP address = 128.216.55.0/24
Subnet Mask = 255.255.255.0
Network bits = 16
Host bits = 8
Subnet bits = 8
28– 2 = 254 Hosts

IP address = 222.110.8.61/28
Subnet Mask = 255.255.255.240
Network bits = 24
Host bits = 4
Subnet bits = 4
24– 2 = 14 Hosts

Menghitung Jumlah Network dalam satu Subnet

Untuk menghitung jumlah subnet dalam satu network gunakan formula 2N – 2.  Dengan N adalah jumlah bit subnet dalam network. misalnya :

IP address = 176.85.195.60/22
Subnet Mask = 255.255.252.0
Network bits = 16
Host bits = 10
Subnet bits = 6
26 – 2 = 62 Networks

IP address = 100.15.209.0/23
Subnet Mask = 255.255.254.0
Network bits = 8
Host bits = 9
Subnet bits = 15
215 – 2 = 32,766 Networks

IP address = 128.216.55.0/24
Subnet Mask = 255.255.255.0
Network bits = 16
Host bits = 8
Subnet bits = 8
28 – 2 = 254 Networks

IP address = 222.110.8.61/28
Subnet Mask = 255.255.255.240
Network bits = 24
Host bits = 4
Subnet bits = 4
24 – 2 = 14 Networks

Increment

Kita telah bekerja dengan IP address subnet 222.110.8.61/28. Tetapi setelah kita tahu betapa banyak subnet-subnet dan host dalam satu network, kita dapat menentukan network ID untuk suatu subnet. Sejauh ini, kita tahu 222.110.8.61/28 memiliki 14 host dan 14 subnet. Sebelum dikurangi 2 untuk jumlah host/network yang valid, penghitungan kita adalah 16 host dan 16 subnet. Hal ini berarti sebuah subnet dengan mask 255.255.255.240 adalah bagian dari subnet besar dengan increment 16 host. Variable dari subnet ini adalah octet terakhir, jadi kita dapat otomatis menuliskan 3 octet pertama seperti berikut

222.110.8.x (dimana x adalah variable yang memiliki kelipatan 16)

Nilai octet berkisar antara 0 dan 255. Jadi subnet pertama dalam network besar adalah 222.110.8.0. Dengan penambahan increment kita dapatkan network-network sebagai berikut:

222.110.8.0 (zero subnet-not valid for the CCNA exam)

222.110.8.16

222.110.8.32

222.110.8.48

222.110.8.64

….

222.110.8.224

222.110.8.240 (broadcast subnet-not valid for the CCNA exam)

Ini adalah daftar dari network ID dalam network kelas C dengan subnet 255.255.255.240. network ID selalu berupa angka genap. Ada sebanyak 16 subnet. Berdasarkan aturan subnet 0 dan subnet broadcast, maka subnet pertama dan terakhir tidak bisa dipakai. IP address 222.110.8.61 lebih besar dari 48 dan kurang dari 64, jadi network ID atau nomor subnet untuk 222.110.8.61/28 adalah 222.110.8.48. Untuk mendapatkan IP broadcast, kurangi 1 angka dari network ID berikutnya dalam list. Pada contoh ini berarti IP broadcast adalah 222.110.8.63.

Cara Cepat

Ada sebuah perhitungan cepat yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi network ID, yang kemudian bisa digunakan untuk menentukan IP broadcast. Lihat kembali 222.110.8.61/28.

IP address = 222.110.8.61
Subnet Mask = 255.255.255.240

Pada Octet pertama yang tidak bernilai 255, kurangkan dari angka 256.

256 – 240 = 16

Kita dapatkan nilai increment = 16. Sekarang untuk menemukan network ID, kita cari kelipatan 16 yang paling dekat dengan angka 61, kita gunakan octet terakhir karena octet terakhir yang kita gunakan pada subnet mask.

16×3 = 48 dan 16×4 = 64

Dari perhitungan diatas, kita dapatkan kelipatan network ID adalah :

222.110.8.48

222.110.8.64

Maka kita gunakan yang 48 karena lebih kecil dari 61, dan 64 adalah network ID dari subnet berikutnya.

Network ID = 222.110.8.48
Broadcast IP = 222.110.8.63
Berikut contoh yang lain.
IP address = 100.15.209.0
Subnet Mask = 255.255.254.0

2 octet pertama bernilai 255, jadi kita akan gunakan octet pertama yang tidak bernilai 255 adalah octet ketiga. Lalu kita kurangkan 254 (octet ketiga) dari 256

256 – 254 = 2

2×104 = 208

2×105 = 210

Kita lihat network ID yang valid kurang dari 209 adalah 208. Dan network ID dari subnet berikutnya adalah 210, jadi kita dapat mengisi octet ketiga dengan setiap nilai diatas untuk mendapatkan kelipatan network ID berikut:

100.15.208.0

100.15.210.0

Untuk IP address 100.15.209.0 dengan subnet mask 255.255.254.0, sekarang kita tahu network ID nya adalah 100.15.208.0. Network berikutnya adalah 100.15.210.0, jadi untuk mencari IP address terakhir (IP broadcast) dari network adalah dengan mengurangi 1 address dari network ID berikutnya, jadi 100.15.209.255.

Network ID = 100.15.208.0
Broadcast IP = 100.15.209.255

Menentukan Range/Cakupan IP Address yang Valid

Range dari address IP yang valid dalam sebuah subnet adalah address-address yang berada antara Network ID dan IP Broadcast. Misal jika kita diberikan IP address dan subnet mask sebagai berikut.

IP Address = 210.189.16.0

Subnet Mask = 255.255.255.0

Pertama dengan menentukan network ID nya, yang dalam hal ini adalah 220.189.16.0. Kemudian menentukan address IP broadcast, yang dalam hla ini adalah 210.189.16.255. Maka kita bisa menentukan range dari address IP yang valid adalah 210.189.16.1 sampai 210.189.16.254.

Berikut beberapa contoh yang lain.

IP address = 100.15.209.0

Subnet Mask = 255.255.254.0

CIDR = /23

Network ID = 100.15.208.0

Broadcast IP = 100.15.209.255

Valid IP range = 100.15.208.1 to 100.15.209.254

IP address = 222.110.8.61

Subnet Mask = 255.255.255.240

CIDR = /28

Network ID = 222.110.8.48

Broadcast IP = 222.110.8.63

Valid IP range = 222.110.8.49 to 222.110.8.62

Perangkat-Perangkat Layer Network

Perangkat yang paling umum ditemukan pada layer ini adalah router; tetapi, switch layer 3 juga bisa diimplementasikan untuk membentuk suatu WAN.

Kedua router dan switch layer 3 dapat berfungsi sebagai berikut:

  • Membatasi paket-paket broadcast dan multicast
  • Menentukan alur terbaik untuk transfer data (routing)
  • Melucuti atau menambahkan frame layer Data Link
  • Mengimplementasikan access lists untuk memfilter paket
  • Membangun qualifier Quality of Service (QoS) untuk mengukur kinerja network

Routers

Router menggabungkan minimal 2 network untuk membentuk sebuah internetwork (WAN). Pada postingan-postingan sebelumnya telah dibahas perangkat-perangkat yang digunakan pada layer fisik (hub dan repeater) dan layer Data Link (switch layer 2 dan bridge). Switch laye r2 dan bridge membuat collision domain terpisah untuk setiap segment LAN. Router dan Switch layer 3 dapat membuat broadcast domain untuk setiap segment WAN. Broadcast domain adalah sekelompok node (mesin) yang dapat menerima pesan broadcast satu sama lain. Gambar dibawa menunjukkan bagaiman sebuah router membuat broadcast domain sedangkan switch-switch yang terhubung membentuk collision domain.

12-router

Tabel routing pada router mengandung informasi-informasi sebagai berikut :

  • Address network
  • Interface : interface untuk memforward paket keluar

Ada 2 tipe paket yang digunakan pada layer 3:

  • Paket data: membawa data melintasi internetwork dan didukung oleh routed protocols.
  • Paket Update Route : mengirimkan update kepada router-router tetangga (neighbor) mengenai semua network-network yang terhubung dan didukung oleh routing protocols seperti RIP, EIGRP,dan OSPF.

Switch Layer 3

Switch layer 3 biasanya disebut multilayer switch. Telah disebutkan diatas kesamaan-kesamaan antara router dan switch layer 3. Ada beberapa perbedaan yang perlu disebutkan. Perbedaan paling mencolok antara router dan switch layer 3 adalah throughput packet switching, dimana router telah ditingkatkan untuk memproses lebih dari 1 juta paket per second (pps), tetapi switch layer 3 dapat memproses berjuta-juta pps. Meski begitu, switch layer 3 memproses traffik lebih banyak dalam waktu yang lebih singkat.

Jika router menggunakan mesin berbasis microprocessor, switch layer 3 menggunakan hardware ASIC untuk melakukan packet swtiching. Switch layer 2 menggunakan ASIC hardware untuk mem-forward frames.

  1. fahrur
    Desember 28, 2009 pukul 3:13 pm

    trims, mas. ok banget tutorialnya tambah jelas dg warna2nya yang menegaskan inti bahasan🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: