Beranda > Routing First Step > RIPv1 -part3-

RIPv1 -part3-

Algoritma RIPv1

Berikut beberapa aturan-aturan yang diterapkan oleh RIPv1

Output algoritma RIPv1 :

  1. Jika prefix yang akan di advertise berada pada nomor major network yang sama, dan memiliki subnet mask yang sama dengan interface yang digunakan untuk meng-advertise network tersebut, maka prefix akan di advertise.
  2. Jika prefix yang akan di advertise berada pada nomor major network yang sama, tetapi memiliki subnet mask yang berbeda dengan interface yang digunakan untuk meng-advertise network tersebut, maka prefix tidak akan di advertise.
  3. Jika prefix yang akan di advertise tidak berada pada nomor major network yang sama dengan interface yang dipakai untuk meng-advertise prefix, maka prefix akan di advertise sebagai classful.
  4. Jika fitur split horizon di enable, maka prefix yang didapat dari suatu interface tidak akan di advertise keluar melalui interface tersebut.

Input algoritma RIPv1 :

  1. Prefix akan diterima jika belum  terdapat pada tabel routing.  Hop count ditambah 1 sebelum ditaruh pada tabel routing. Jika metric (hop count)  setelah penambahan sama dengan 16 maka prefix harus ditolak.
  2. Jika prefix sudah ada dalam tabel routing, maka prefix akan diterima dan ditambahkan pada tabel routing hanya jika hop count nya lebih kecil dari pada hop count prefix yang berada pada tabel routing.
  3. Jika sebuah prefix yang diterima pada suatu interface sudah berada pada tabel routing, maka prefix akan diterima dan diletakkan pada tabel routing hanya jika prefix mulanya diterima dari interface tersebut, terlepas dari hop count nya.

ripv1-algoritm

ripv1-algoritm

Router D menambah hop count 1 angka dan meng-advertise network 1 kepada B dan E dengan hop count = 1. Router e meng-advertise network 1 kepada B dan F dengan hop count 2; Router F meng-advertise network 1 kepada router C dengan hop count 3. Router B menerima tiga rute network 1. Dalam Router B, rute dari A memiliki hop count 0, dan rute dari D memiliki hop count 1, dan rute dari E memiliki hop count 2. B menerima rute dari A karena memiliki hop count yang paling kecil. Router C menerima 2 advertisemenet network 1 : dari Router B dengan hop count 1 dan dari Router F dengan hop count 3. Router C menerima rute dari B.

Pada gambar yang kedua link antara Router A dan Router B terputus. Router B kini meng-advertise network 1 kepada Router C dengan hop count 2. Sebelum A dan B terputus, Router B mengadvertise hop count sebesar 1. Router C menerima hop count dengan rute yang sekarang berada pada tabel routing yang didapat dari Router B.

Daftar keterbatasan RIPv1

Keterbatasan Comments
Jangkauan  diameter network Hop count harus kurang dari 16
Tidak mendukung VLSM Subnet masks diasumsikan, tidak di advertise
Metric Hanya berupa Hop count, tidak mempertimbangkan bandwidth
Convergence Semakin besar network semakin lama waktu convergence
Counting to infinity Berpotensi menimbulkan problem pada network dengan 2 rouer atau lebih.
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: