Beranda > ccna, CCNA Exam > Konsep Protokol Routing

Konsep Protokol Routing

Router harus memiliki daftar rute dalam tabel routing-nya agar bisa menjalankan fungsinya mem-forward paket (routing). Ada dua jalan yang ditempuh oleh router untuk menambahkan daftar rute ke dalam tabel routingnya yakni, pertama router secara otomatis menambahkan (sub)network-network yang terhubung langsung dengan interfacenya kedalam tabel routing dan kedua dengan mengkonfigurasi routing melalui global configuration.

Rute yang Terhubung Langsung

Router menambahkan daftar rute ke dalam tabel routingnya untuk semua subnet yang terhubung langsung dengan interfacenya. Agar bisa begini, interface router harus sudah dikonfigurasi IP Address dan Mask nya. Konsepnya sederhana, jika router memiliki suatu interface pada suatu subnet, maka router bisa mem-forward paket kedalam subnet tersebut, jadi router harus menambahkan subnet tersebut kedalam tabel routingnya.

1-topology

Output dari mengeksekusi perintah show ip route pada router Alburquerque akan menampilkan 3 buah subnet (yang terhubung langsung) yang otomatis ditambahkan oleh router ke dalam tabel routingnya.

Static Routes

Akan tetapi router Alburquerque tidak bisa melakukan ping ke 10.1.2.252 karena dalam tabel routing-nya router tersebut belum mempunyai daftar rute ke subnet dimana 10.1.2.252 berada, yakni subnet 10.1.2.0/24.

Kita bisa secara manual menambahkan rute statik kedalam tabel routing Alburquerque dengan mengeksekusi perintah ip route pada global configuration.

Default Route

Default route adalah sebuah rute yang dianggap cocok dengan semua IP address tujuan. Dengan default route ketika IP address destination(tujuan) dari sebuah paket tidak ditemukan dalam tabel routing, maka router akan menggunakan default route untuk mem-forward paket tersebut.

Default route paling cocok berfungsi ketika hanya ada satu rute ke suatu network. Misalnya pada gambar dibawah ini, R1 adalah router dari salah satu kantor cabang yang terhubung dengan jaringan utama melalui link serial tunggal.

default-routeEnginer bisa memilih salah satu dari 3 cara berikut agar R1 memiliki rute untuk mencapai semua network di balik R2 :

  • Menambahkan ratusan rute statik ke dalam R1, dengan catatan semua rute tersebut akan menggunakan S0/1 sebagai outgoing interface-nya, dengan IP address netxt-hop adalah 172.16.3.2 (R2).
  • Menjalankan protokol routing pada kedua router agar mereka saling bertukar informasi routing
  • Atau, menambahkan default route pada R1 dengan outgoing interface S0/1

Tentunya pilihan ketiga adalah pilihan paling mudah untuk dilakukan😀

Sekilas Protokol Routing

Satu tujuan utama dari sebuah Protokol IP routing adalah agar router bisa secara otomatis menambahkan daftar rute didalam tabel routing-nya, juga sekaligus menentukan rute terbaik jika ternyata untuk satu tujuan ditemukan beberapa rute yang bisa ditempuh. Tujuannya sederhana, tapi prosesnya bisa sangat rumit.

Protokol Routing membantu router untuk mempelajari rute dengan cara saling meng-advertise rute yang telah mereka ketahui. Setiap router pada awalnya hanya mengetahui rute pada subnet yang terhubung langsung dengannya. Kemudian, masing-masing router saling mengirimkan pesan yang berisi daftar rute dalam tabel routingnya. Ketika sebuah router menerima update pesan routing dari router lainnya, maka router akan mempelajari pesan routing tersebut, dan jika terdapat rute dalam pesan tersebut yang belum ada dalam tabel routingnya, maka router akan menambahkannya kedalam tabel routing. Jika semua router saling berpartisipasi dan bertukar pesan routing seperti ini, maka akhirnya setiap router akan mengetahui semua rute dalam satu internetwork.

Konsep Dasar RIP-2

Router yang menggunakan protokol routing RIP-2 akan meng-advertise informasi setiap subnetnya ke tetangga-tetangganya (neighbor router). Kemudian neighbor router tersebut juga meng-advertise informasi tersebut ke teteangga-tetangganya yang lain dan begitu seterusnya, sampai semua router dalam internetwork menerima informasi tersebut. Kalau dipikir-pikir, cara kerja RIP-2 hampir mirip ibu-ibu satu RT yang saling bertukar informasi tentang gosip-gosip entertainment atau berita artis terbaru😀. *siap-siap dikemplang mak-mak 😦 *

Distance vector protocols bekerja seperti ibu-ibu RT itu juga, hanya saja tidak seperti ibu-ibu RT, router-router tersebut tidak melebih-lebihkan informasi apalagi memalsukan berita yang akan disampaikan pada tetangga😀

rip2Dari gambar diatas bisa kita lihat :

  1. Router R2 mengetahui rute dari subnet yang terhubung langsung dengannya yakni subnet 172.16.3.0/24.
  2. R2 mengirimkan update berupa pesan routing ke tetanggnya (R3) yang berisi daftar sebuah subnet (172.16.3.0) dan mask-nya juga jarak/metric yang bersesuaian.
  3. R3 menerima update pesan routing tersebut, menambahkan rute ke subnet 172.16.3.0/25 dengan next-hop routernya adalah R2 (router yang mengirimkan pesan routing).
  4. Pada saat yang sama R1 juga menerima update pesan routing yang dikirimkan oleh R2, sehingga R1 juga  menambahkan rute ke subnet 172.16.3.0/25 dengan next-hop routernya adalah R2 (router yang mengirimkan pesan routing).
  5. R1 and R3 juga saling mengirimkan update routing untuk subnet 172.16.3.0/24.

Perbandingan Beberapa Protokol IP Routing

Yang pertama adalah apakah protokol tersebut termasuk protokol yang didefinisikan didalam RFC yang berarti menjadi standard publik, atau termasuk sebagai protokol proprietari Cisco. Perbandingan lainnya adalah apakah suatu protokol routing mendukung variable-length subnet masking (VLSM) atau tidak. VLSM akan kita bahas pada postingan besok, atau besok-besok😀

Protokol IP routing juga bisa digolongkan menjadi 2 jenis :

  • Interior Gateway Protocol (IGP): Protokol Routing yang di desain dan dibuat untuk digunakan didalam sebuah Autonomous System tunggal.
  • Exterior Gateway Protocol (EGP): Protokol Routing yang di desain dan dibuat untuk digunakan oleh router-router antar Autonomous System yang berbeda.

Autonomous System adalah sekumpulan network (internetwork) yang berada pada satu sistem administrasi tunggal. Misalnya, sebuah internetwork yang dibuat dan didanai oleh sebuah perusahaan kemungkinan besar berada dalam satu Autonomous System. Juga sekumpulan network dalam satu kampus juga kemungkinan berada dalam satu Autonomous System yang sama.

Beberapa protokol routing didesain agar paling baik bekerja dalam sebuah Autonomous System tunggal, sehingga protokol- protokol ini disebut IGP. Sebaliknya, hanya satu protokol routing, Border Gateway Protokol (BGP), yang digunakan antar-router dari Autonomous System yang berbeda-beda, dan disebut EGP.

Setiap Autonomous System diberikan penomoran yang disebut autonomous system number (ASN). Seperti halnya IP Address publik, ICANN mengontrol hak pemberian nomor ASN. Dengan penomoran ini, BGP bisa memastikan paket-paket yang beredar pada internet tidak bergentayangan tanpa tahu rute ke tempat tujuan atau malah berputar-putar melewati Autonomous System yang sama 2 kali atau lebih.

Perhatikan gambar berikut untuk lebih jelas tentang IGP,EGP, dan Autonomous System :

igp-egp-autonomous-system

Jenis-jenis Algoritma Protokol Routing

Dapat dirangkum dalam tabel berikut :

jenis-jenis-algoritma

Lebih lanjut tentang beberapa protokol routing diatas juga akan diposting besok, atau besok-besoknya lagi😀

Metrics

Protokol routing harus memiliki metode untuk menentukan rute terbaik yang harus dipilih jika ternyata ada lebih dari satu rute untuk mencapai suatu subnet. Untuk itu, sebuah protokol routing mendefinisikan metrik yang menentukan nilai objektif dari setiap rute. Semakin rendah nilai metric semakin baik rute tersebut.

rip-metricRIP menggunakan metric yang dinamakan hop count yang menghitung jumlah router perantara yang harus dilewati/disinggahi sebelum mencapai suatu subnet. Dengan RIP, router B pada gambar diatas bisa mencapai subnet 10.1.1.0 melalui dua rute, yang pertama rute dengan jumlah hop count 1 buah dengan next-hop adalah router A, dan yang kedua adalah rute dengan jumlah hop count 2 buah dengan next-hop adalah router C. Dalam hal ini, RIP akan menambahkan rute untuk subnet 10.1.1.0 dengan next-hop nya adalah router A.

eigrp-metric

Lain halnya dengan EIGRP yang pengukuran nilai metric-nya menggunakan bandwidth dan delay pada interface sebagai input dalam formula matematika. Jika bandwidth pada interface di konfigurasi sesuai dengan gambar diatas maka EIGRP akan menambahkan rute untuk subnet 10.1.1.0 pada tabel routing dengan router C sebagai router next-hop nya.

Autosummarization dan Manual Summarization

Router pada umumnya melakukan proses routing lebih cepat jika daftar didalam tabel routing nya tidak terlalu banyak. Dengan bantuan route summarization router bisa memperkecil isi tabel routingnya tanpa mengurangi kemampuannya mem-forward ke semua bagian network seperti sebelumnya dilakukan summarization.

Dua tipe route summarization yang bisa dilakukan, yakni autosummarization dan manual summarization. Manual summarization menyerahkan tanggung jawab kontrol dan flexibility pada enginer, membuat enginer bisa memilih route summary yang mana yang akan di advertise disamping kemampuan untuk men-summarize network classful. Hasilnya manual summarization lebih berguna daripada autosummarization.

Lebih dalam tentang summarization akan dibahas pada postingan besok, atau besok-besoknya lagi😀

Classless and Classful Routing Protocols

Beberapa protokol routing masih harus mempertimbangkan pengelompokan network kedalam kelas A,B,atau C dan beberapa protokol routing yang lain mengabaikan aturan pengelompokan seperti ini. Protokol jenis pertama disebut classful routing protocols;  dan yang kedua disebut classless routing protocols.

classless-classfull

Convergence

Istilah convergence digunakan untuk proses-proses yang terjadi pada protokol routing saat terjadi perubahan topologi pada network. Ketika ada link yang tidak berfungsi lagi, atau ketika salah satu router gagal beroperasi saat pertama dinyalakan, atau kemungkinan perubahan rute dalam internetwork. Proses-proses yang ditempuh oleh protokol routing untuk mengenali adanya perubahan-perubahan tersebut, kemudian menentukan rute terbaik selanjutnya untuk setiap subnet  setelah adanya perubahan, lalu   menambahkan daftar rute yang baru  sehingga fungsi routing tetap berjalan normal seperti sedia kala inilah yang disebut sebagai convergence.

Tabel perbandingan beberapa protokol routing :

perbandingan

Administrative Distance

Saat sebuah internetwork memiliki link redundant dan menggunakan protokol routing tunggal, setiap router dapat mempelajari beberapa rute berbeda untuk mencapai satu subnet tertentu. Kemudian memanfaatkan  metric untuk memilih rute terbaik yang seharusnya ditempuh kemudian menambahkan rute terbaik tersebut kedalam tabel routing.

Pada beberapa kasus, sebuah internetwork menggunakan lebih dari 1 jenis protokol routing. Dengan begini, router-router berkemungkinan mempelajari rute-rute berbeda untuk mencapai suatu subnet menggunakan protokol routing yang berbeda pula. Pada kasus seperti ini, router tidak bisa menggunakan metric untuk memilih rute terbaik yang harus ditambahkan pada tabel routing, karena setiap protokol routing menggunakan metric yang berbeda-beda.

Meski begitu router tetap berkewajiban untuk menentukan satu rute terbaik yang harus dipilih, untuk itu, IOS mengatasi masalah ini dengan memberikan nilai numerik pada setiap protokol routing. Kemudian IOS dapat memilih rute-terbaik milik protokol routing dengan nilai paling rendah. Penomoran ini dinamakan administrative distance (AD). Berikut adalah daftar nilai penomoran untuk setiap protokol

administrative-distance

  1. edo
    Mei 2, 2009 pukul 12:03 pm

    Mantapzz..

    Lanjutkan perjalanan anda..!

  2. esnu
    Juli 29, 2009 pukul 1:47 pm

    bagus Bro

  3. Agustus 11, 2009 pukul 8:41 am

    Keren bung,,,

    mantabs,, kenapa ga dibuat modul atau buku aja …bagus banget penjelasannya …

  4. fahmi
    November 1, 2009 pukul 12:11 pm

    muantab abis…… komplit baget dah……. ditunggu banget tulisan-tulisan selanjutnya………

  5. rubiyanto
    Mei 28, 2010 pukul 4:51 pm

    Terima Kasih, cukup jelas penjelasannya

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: