Arsip

Archive for the ‘Routing TCP/IP Volume 1’ Category

Cara Kerja RIPng

April 23, 2009 1 komentar

RIPng untuk Ipv6 berbasis pada RIPv2, tetapi bukan merupakan extension dari RIPv2; RIPng merupakan protokol terpisah. RIPng tidak mendukung Ipv4, jadi untuk menggunakan RIP untuk proses routing Ipv4 dan Ipv6 kita harus menggunakan RIPv1/v2 untuk Ipv4 dan RIPng untuk Ipv6.

RIPng menggunakan timer,prosedur, dan tipe message yang sama dengan RIPv2. Misalnya, RIPv2 menggunakan update timer 30 detik yang telah ditambahi sedikit untuk mencegah sinkronisasi, periode timeout 180-detik, dan timer untuk garbage-collection 120 detik, dan holddown timer 180 detik. RIPng juga menggunakan metric hop-count, dengan 16 menunjukkan nilai unreachable. Dan juga menggunakan Request dan Response messages dengan cara yang sama seperti RIPv2. Serta pesan Request dan Response dikirim secara multicast dengan sedikit pengecualian untuk unicast yang digunakan RIPv1 dan v2. Address multicast Ipv6 yang digunakan RIPng adalah FF02::9.

Hal yang beda ada pada cara Otentikasi. RIPng tidak memiliki mekanisme otentikasi sendiri, tetapi mengandalkan fitur yang ada pada Ipv6.

Gambar dibawah menunjukkan format message RIPng. Tidak seperti RIPv1/v2 yang berjalan pada port UDP 520, RIPng menggunakan port UDP 521. Juga tidak ada ukuran message yang di set. Ukuran message hanya bergantung pada MTU pada link.

1-message-format1 Read more…

Cara Kerja RIPv2

Semua prosedur operasi, timer-timer, dan fungsi-fungsi stabilitas dari RIPv1 tetap ada pada versi 2, dengan pengecualian update broadcast. Pada RIPv2 update dilakukan secara multicasts pada router-router lain menggunakan address kelas D 224.0.0.9. Keuntungan multicast adalah mesin-mesin pada network lokal yang tidak berpartisipasi dalam proses RIP tidak perlu menghabiskan waktu “membuka bungkus” paket broadcast dari router.

Format Message RIPv2

Formate message RIPv2 ditunjukkan pada gambar dibawah; struktur dasar masih sama dengan RIPv1. Semua extension ditaruh pada field-field yang dulunya tidak dipakai. Seperti pada versi 1, update RIPv2  dapat memuat sampai 25 entri route. Operasi RIPv2 juga berada pada UDP port 520 dan memiliki ukuran maksimum diagram 512 octet.

1-message-format
Read more…

Konfigurasi RIP: Memanipulasi metric RIP

April 16, 2009 4 komentar

Sebuah serial link yang dipakai sebagai backup telah ditambahkan pada Ernest-Barney, lihat gambar topologi yang baru dibawah ini. Link tersebut hanya boleh digunakan sebagai backup jika route/jalur via Andy mengalami kegagalan. Masalahnya adalah jalur antara subnet 10.33.0.0 Barney dan subnet 10.33.32.0 Ernest memiliki metric sejauh 1 hop jika melalui link serial dan sejauh 2 hop jika melalui link ethernet via Andy. Pada keadaan normal, RIP akan memilih serial link sebagai jalur terbaik.

Untuk itu, metric RIP harus dimanipulasi agar link ethernet yang memiliki metric 2 hop lebih diutamakan dari pada link serial yang sejauh 1 hop.

1-tplg-rip-metric

Read more…

Konfigurasi RIP: Subnet Tidak Bersebelahan

April 16, 2009 1 komentar

Pada gambar topologi network dibawah ini, sebuah router (Ernest) telah ditambahkan pada network dengan subnet 10.33.32.0 pada interface e0/1-nya. Permasalahannya adalah subnet lain dari 10.0.0.0, yakni 10.33.0.0/20 telah terhubung pada Barney, dan satu-satunya jalur/route yang ada diantara kedua subnet tersebut adalah 192.168.83.0 dan 192.168.12.0, 2 network yang sangat berbeda. Hasilnya, network major 10.0.0.0 tidak bersebelahan.

pertama

Read more…

Konfigurasi RIP: Unicast Update

Masih melanjutkan konfigurasi RIP sebelumnya, kali ini ditambahkan sebuah router dalam ethernet link dimana Andy dan Floyd berada. Kebijakan masih tetap bahwa antara Andy dan Floyd tidak boleh ada pertukaran informasi RIP, tapi kini Bea-Andy, seperti halnya juga Bea-Floyd harus saling mengadvertise RIP update. Perhatikan topologinya berikut ini

1-topology-rip-unicast-upda

Konfigurasi pada Bea sederhana saja seperti berikut ini: Read more…

Konfigurasi RIP: passive-interface

April 15, 2009 1 komentar

Berikut adalah sebuah topologi dengan kebijakan bahwa tidak boleh ada transaksi RIP antara Andy dan Floyd

1-topology-passive-interfac

Diharapkan bahwa tidak ada advertisement RIP yang dikirimkan antara Floyd dan Andy. Hal ini mudah diterapkan pada Floyd seperti berikut ini : Read more…

Konfigurasi RIP: dasar-dasar

Hanya diperlukan 2 langkah untuk mengkonfigurasi RIP:

  1. Meng-enable RIP dengan perintah router rip.
  2. Menentukan setiap network major yang akan digunakan untuk menjalankan RIP dengan perintah network. Gambar berikut menunjukkan sebuah network dengan 4 router dengan 4 nomor network major.

1-topology-rip-basic2

Read more…

Cara Kerja RIP

Proses RIP beroperasi dari port 520 UDP; semua pesan RIP di enkapsulasi dalam sebuah segment UDP dengan kedua port source dan destination di set 520. RIP mendefinisikan 2 jenis pesan (message): Request messages dan Response messages. Request message digunakan untuk meminta router neighbor mengirimkan update. Response message membawa update. Metric yang digunakan oleh RIP adalah hop count, dengan 1 menandakan network yang terhubung langsung (directly connected) dan 16 menandakan network unreachable.

Pada saat pertama kali aktif, RIP mem-broadcast keluar sebuah paket yang membawa Request message melalui semua interface yang mengenable RIP. Proses RIP kemudian memasuki fase mendengarkan Request RIP atau mengirimkan Response message. Neighbor yang menerima pesan Request akan mengirimkan Response yang berisi tabel routing mereka.

Ketika router yang merequest menerima Response message, router akan memproses informasi yang ada didalamnya. Jika terdapat entri route tertentu yang belum dikenali, maka router akan memasukkannya kedalam tabel routing beserta address dari router yang meng-advertise paket. Jika terdapat entri route yang ternyata sudah ada didalam tabel routing, maka entri yang sudah ada akan digantikan hanya jika entri route yang baru memiliki hop count yang lebih rendah. Jika hop count yang baru lebih tinggi daripada hop count yang telah tersimpan dan paket update berasal dari router next-hop yang tersimpan dalam tabel, maka entri route akan ditandai sebagai unreachable selama waktu yang terdapat dalam holddown period. Jika holddown period telah berakhir dan neighbor yang sama masih tetap meng-advertise entri dengan hop count yang lebih tinggi tersebut, maka metric yang baru (yang lebih tinggi) akan diterima. Read more…

Protokol Routing Link State

Protokol routing link state, kadang disebut juga sebagai protokol shortest path first atau protokol database, dibuat dengan algoritma jalur terpendek Dijkstra. Beberapa contoh protokol routing link state antara lain

  • Open Shortest Path First (OSPF) untuk IP
  • The ISO’s Intermediate System-to-Intermediate System (IS-IS) for CLNS and IP
  • DEC’s DNA Phase V
  • Novell’s NetWare Link Services Protocol (NLSP)

Meskipun protokol link-state dianggap lebih kompleks daripada protokol distance vector, tetapi sebenarnya dasar-dasar fungsinya tidak begitu kompleks:

  1. Setiap router menjalin relasi ketetanggaan (adjacency) dengan setiap neighbornya.
  2. Setiap router mengirimkan unit data yang disebut Link State Advertisement (LSA) kepada setiap neighbornya. LSA mendaftar setiap link yang dimiliki oleh router, dan untuk setiap link dicantumkan juga informasi link tersebut, status, metric dari interface router pada link, dan setiap neighbor yang terhubung pada link tersebut. Setiap neighbor yang menerima advertisement ini (LSA) akan memforward LSA tersebut kepada neighbor masing-masing.
  3. Setiap router menyimpan kopi dari semua LSA yang diterima dalam satu database. Jika semua berjalan dengan baik, seharusnya database pada semua router adalah identik satu sama lain.
  4. Database topologi yang lengkap, disebut juga link state database, digunakan oleh algoritma Dijkstra untuk menghasilkan graph (gambaran) network yang menunjukkan jalur terpendek menuju setiap router. Protokol link state dapat mengecek link state database untuk mencari subnet-subnet apa saja yang terhubung pada setiap router, dan memasukkan informasi ini kedalam tabel routing.

Read more…

Protokol Routing Distance Vector

April 14, 2009 1 komentar

Dinamakan distance vector karena faktanya route-route di advertise sebagai sebuah vektor (jarak, arah) / (distance,direction), dimana jarak ditentukan oleh metric dan arah merupakan router next-hop. Misalnya, “Network A adalah network sejauh 5 hop dan dapat dicapai dari arah router X”. Setiap router mempelajari jalur-jalur dari sudut pandang router tetangganya dan kemudian meng-advertise jalur-jalur dari sudut pandangnya sendiri. Karena setiap router sangat tergantung pada informasi tetangganya, protokol routing distance vector sering disebut “routing by rumor“.

Beberapa protokol routing yang tergolong distance vector antara lain:

  • Routing Information Protocol (RIP) for IP
  • XNS RIP dari Xerox Networking System
  • IPX RIP dari Novell
  • Systems Internet Gateway Routing Protocol (IGRP) dan Enhanced Internet Gateway Routing Protocol (EIGRP) dari Cisco
  • DNA Phase IV dari DEC
  • Routing Table Maintenance Protocol (RTMP) dari AppleTalk

Read more…

Dasar-Dasar Protokol Routing

Pada kali ini kita akan membahas bagaimana router bisa mendapatkan informasi secara otomatis dan berbagi informasi tersebut dengan router-router lainnya via protokol routing dinamik. Protokol routing adalah bahasa yang dipakai oleh router-router untuk saling berbicara satu sama lain untuk berbagi informasi mengenai keterjangkauan (reachability) dan status dari network-network.

Protokol routing dinamik tidak hanya melakukan tugas penentuan jalur (path-determination) dan pengisian tabel routing saja, tetapi juga menentukan jalur terbaik ke network tujuan dari beberapa jalur jika jalur yang terbaik sebelumnya mengalami kegagalan (down). Kemampuan untuk menangani adanya perubahan topologi pada network adalah keuntungan terpenting yang ditawarkan oleh routing dinamik melebihi routing statik.

Semua protokol routing dinamik dibangun diatas sebuah algoritma. Secara umum, sebuah algoritma adalah langkah-langkah prosedur untuk mengatasi sebuah persoalan. Algoritma routing setidaknya harus menetapkan hal-hal berikut:

  • Prosedur untuk menyampaikan informasi keterjangkauan (reachibility) suatu network kepada router-router yang lain.
  • Prosedur untuk menerima informasi reachibility dari router-router lain.
  • Prosedur untuk menentukan jalur (route) yang paling optimal berdasarkan informasi reachability yang dimiliki untuk kemudian dimasukkan kedalam tabel routing.
  • Prosedur untuk menangani adanya perubahan topologi dalam network.

Beberapa hal yang umum dalam pembahan protokol routing adalah path determination (penentuan jalur), metrics, convergence, dan load balancing. Read more…

Troubleshoot Routing Statik: Melacak Jejak IPv6 Route yang Gagal

Sebuah link dibuat antara Honeypot dan Honeytree agar network memiliki router alternatif sebagai backup jika route primer mengalami kegagalan. Gambar dibawah adalah topologi network yang baru. Aplikasi IPv6 yang menggunakan network kurang sensitif terhadap delay, tetapi aplikasi tersebut memanfaatkan bandwidth dengan penuh, jadi admin memutuskan untuk menggunakan link baru sebagai load sharing. Routing statik dikonfigurasi agar memanfaatkan link baru.

topologi_ipv6fail

Read more…

Troubleshoot Routing Statik: Router yang di Ganti

April 13, 2009 3 komentar

Gambar dibawah ini menunjukkan 2 router, Honeypot dan Honeybee, yang dihubungkan dengan link Frame Relay. Router-router dikonfigurasi untuk menggunakan IPv4 dan IPv6, serta mengunakan routing static untuk membangun table routingnya.

replaced_topologi Read more…

Troubleshoot Routing Statik: Konflik Protokol

Topologi dan konfigurasi awal

protconftopology

Roo#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Roo(config)#int eth1/0
Roo(config-if)#ip addr 172.16.21.1 255.255.255.0
Roo(config-if)#no shut
Roo(config)#int eth1/1
Roo(config-if)#ip addr 172.16.20.1 255.255.255.0
Roo(config-if)#no shut
Roo(config-if)#^Z
Roo#
Kanga#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Kanga(config)#int e1/0
Kanga(config-if)#ip addr 172.16.21.2 255.255.255.0
Kanga(config-if)#no shut
Kanga(config-if)#int e1/1
Kanga(config-if)#ip addr 172.16.20.2 255.255.255.0
Kanga(config-if)#no shut
Kanga(config-if)#^Z
Kanga#

Gambar diatas menunjukkan 2 buah router yang dihubungkan oleh 2 link, yang salah satunya terdapat switch Ethernet sederhana. Switch ini juga menangani beberapa traffik dari link-link lain yang tidak ditunjukkan pada topologi. Sehingga traffik pada switch begitu padat. Server Teddy adalah sebuah server penting; admin mengkhawatirkan dengan padatnya traffik pada switch ini akan mengganggu jalannya traffik yang menuju server Teddy. Karena itu admin menambahkan routing statik pada router Roo agar mengalihkan traffik yang menuju server Teddy agar melewati link yang atas (link yang tidak ber-switch) melewati subnet 172.16.21.0/24.

Roo#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Roo(config)#ip route 172.16.20.75 255.255.255.255 172.16.21.2
Roo(config)#^Z
Roo#

Solusi ini nampak rasional, tetapi tidak akan berjalan dengan baik. Setelah menambahkan routing statik, paket-paket dari Roo tidak lagi dapat mencapai server Teddy. Tidak hanya itu, paket-paket yang melalui Kanga juga tidak dapat mencapai server, meskipun tidak ada perubahan yang dibuat pada router Kanga. Read more…

Troubleshoot Routing Statik: Melacak Route Gagal

Ketika melakukan troubleshooting (mencari titik problem dalam network), langkah pertama haruslah selalu memeriksa tabel routing. Apa yang router ketahui? Berapa lama informasi tersebut berada dalam tabel routing? Apakah router mengetahui bagaimana cara mencapai tempat tujuan? Apakah informasi yang berada dalam tabel routing akurat? Mengetahui cara untuk melacak (trace) sebuah route merupakan hal yang sangat penting dalam troubleshooting sebuah network. Read more…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.